Inggris.
Negeri dengan pengaruh yang menurutku paling besar di muka bumi ini. Apalagi
kalau bukan bahasanya. Hampir di seluruh negara di dunia, Presidennya (setahu
saya) fasih berbahasa Inggris atau minimal mereka pernah diundang datang ke
sebuah pertemuan Internasional yang tentunya fully English. Lebih dari 10 tahun
kami di sini,di sekolah, mempelajari bahasa Ratu Elizabeth itu. Mulai dari
pengenalan one two three,mango apple orange, mother father brother, hingga
kedetailan tenses dan grammar. Kenapa harus Inggris, sih?Kenapa bukan bahasa Belanda, Jerman, atau bahkan Mandarin?Well,
biarlah sejarah yang menjawabnya. (Ketahuan
gak pernah baca sejarah). Apapun itu, kepopuleran Inggris—dalam hal ini
ialah bahasanya—ini membuatku semakin tertarik untuk mengunjungi negerinya
langsung di Eropa sana. Rasa penasaranku yang paling besar ialah bagaimana di
sana orang – orang mampu menulis dan bercakap – cakap dengan English fluency yang benar tanpa cacat
sedikit pun dalam hal grammar maupun tensesnya. Oh My God. Di sekolah, nilai grammarku
masih belum bisa dikatakan sempurna walaupun tidak begitu buruk untuk sekedar
membedakan past-present-future tenses.
Sebagai
teman dari banyak teman yang menyukai tim sepakbola asal Inggris, perlu rasanya
aku ikut merasakan atmosfer kegarangan Chelsea, Liverpool, Manchester City dan
lainnya dalam bermain bola di lapangan hijau, bukan sekedar lewat layar teve,
melainkan live dari stadion mereka
masing – masing. Wohoo! Tak terbayang akan seperti apa aku berada di sana, ber-selfie ria di depan Stamford Bridge,
yang bahkan temanku penggila Chelsea pun belum pernah melakukannya. Terkadang,
menjadi sedikit ‘pamer’ seperti Koh @aMrazing itu perlu untuk memotivasi mereka
untuk bisa menabung juga (padahal kan
bisa gratis dengan ikut kontes blog ini hihihihihihi). Juga sebagai calon arsitek-planner (Amin), melakukan observasi ke stadion – stadion besar seperti Emirates
dan Etihad bisa menjadi ajang observasi dan studi banding untuk kemudian
diterapkan ilmu konstruksi dan desainnya dalam bidang per-stadion-an Indonesia.
Kelak, mungkin aku bisa merancang Stadion Persib yang bertaraf Internasional dan menjadi
sepopuler lapangan – lapangan tempat Van Persie dan Oezil biasa bermain
kandang. Dan tentunya, jika mimpi itu terwujud, dalam acara pelatakan batu
pertamanya, akan tertuliskan :
Terimakasih untuk Mister Potato yang pernah membawa saya ke Inggris
dengan GRATIS!
Bandung, 20 Januari 2044
Tidak ada komentar:
Posting Komentar