Minggu, 18 Mei 2014

GO ENGLAND GO PERSIB!

               
Inggris. Negeri dengan pengaruh yang menurutku paling besar di muka bumi ini. Apalagi kalau bukan bahasanya. Hampir di seluruh negara di dunia, Presidennya (setahu saya) fasih berbahasa Inggris atau minimal mereka pernah diundang datang ke sebuah pertemuan Internasional yang tentunya fully English. Lebih dari 10 tahun kami di sini,di sekolah, mempelajari bahasa Ratu Elizabeth itu. Mulai dari pengenalan one two three,mango apple orange, mother father brother, hingga kedetailan tenses dan grammar. Kenapa harus Inggris, sih?Kenapa bukan bahasa Belanda, Jerman, atau bahkan Mandarin?Well, biarlah sejarah yang menjawabnya. (Ketahuan gak pernah baca sejarah). Apapun itu, kepopuleran Inggris—dalam hal ini ialah bahasanya—ini membuatku semakin tertarik untuk mengunjungi negerinya langsung di Eropa sana. Rasa penasaranku yang paling besar ialah bagaimana di sana orang – orang mampu menulis dan bercakap – cakap dengan English fluency yang benar tanpa cacat sedikit pun dalam hal grammar maupun tensesnya. Oh My God. Di sekolah, nilai grammarku masih belum bisa dikatakan sempurna walaupun tidak begitu buruk untuk sekedar membedakan past-present-future tenses.
                Sembari lanjut ngemil kripik Mister Potato Waavy Creamy Cheese ini aku terus menulis entri dengan penuh semangat sambil membayangkan indahnya dedaunan kering berguguran di jalan – jalan seantero Britania Raya. Sungguh, rasa ini terus menjadi melihat postingan foto teman di Instagram yang tahun lalu sudah dengan sukses menginjakkan kaki di tanah, di mana cowok – cowok ganteng One Direction juga berpijak. Aaaah aku berharap Mister Potato dapat memperpendek jarak antara harapan dengan kenyataanku ini sehingga tidak terlalu jauh bagaikan langit dan bumi. Big Ben Tower, salah satu situs warisan dunia yang aku impikan bisa berfoto dengan berlatar belakang salah satu menara jam terbesar di dunia itu!Sejauh ini, prestasi dalam berfotoku adalah foto dengan berlatarkan menara jam terbesar di Indonesia (mungkin) yaitu Jam Gadang di kampung halamanku, Bukittinggi.
                Sebagai teman dari banyak teman yang menyukai tim sepakbola asal Inggris, perlu rasanya aku ikut merasakan atmosfer kegarangan Chelsea, Liverpool, Manchester City dan lainnya dalam bermain bola di lapangan hijau, bukan sekedar lewat layar teve, melainkan live dari stadion mereka masing – masing. Wohoo! Tak terbayang akan seperti apa aku berada di sana, ber-selfie ria di depan Stamford Bridge, yang bahkan temanku penggila Chelsea pun belum pernah melakukannya. Terkadang, menjadi sedikit ‘pamer’ seperti Koh @aMrazing itu perlu untuk memotivasi mereka untuk bisa menabung juga (padahal kan bisa gratis dengan ikut kontes blog ini hihihihihihi). Juga sebagai calon arsitek-planner (Amin), melakukan observasi ke stadion – stadion besar seperti Emirates dan Etihad bisa menjadi ajang observasi dan studi banding untuk kemudian diterapkan ilmu konstruksi dan desainnya dalam bidang per-stadion-an Indonesia. Kelak, mungkin aku bisa merancang Stadion Persib yang bertaraf Internasional dan menjadi sepopuler lapangan – lapangan tempat Van Persie dan Oezil biasa bermain kandang. Dan tentunya, jika mimpi itu terwujud, dalam acara pelatakan batu pertamanya, akan tertuliskan :
Terimakasih untuk Mister Potato yang pernah membawa saya ke Inggris dengan GRATIS!
Bandung, 20 Januari 2044

Tidak ada komentar:

Posting Komentar